Bapak Polisi, How Do You Sleep at Night?
Merem!! Bukan itu jawabannya. Semua orang juga kalo tidur merem.
Saya bertanya soal moral bapak-bapak yang katanya ‘To Protect and Serve the Society’ a.k.a ‘Melayani & Melindungi Masyarakat’. Mungkin slogan tersebut lebih terasa nyata apabila disempurnakan menjadi : ‘Melayani & Melindungi Masyarakat, Asal Ada Uang Jasa’.
Sebelumnya saya mohon maaf, saya tau bahwa tidak semua aparat polisi itu brengsek. Tapi namanya resiko pekerjaan, kalo yang satu bikin jelek, yang kena getah semuanya kan? Jadi, buat Bapak/Ibu Polisi atau sekerabatnya, yang membaca tulisan ini, apabila mau bete/tersinggung/malu (kalo punya kemaluan)/ berniat bunuh diri ato membunuh saya (lagi ngetrend bukan, polisi menggunakan senjatanya sendiri untuk kepentingan pribadi?), daripada nesu lebih baik terima kenyataan bahwa teman2 polisi anda ada yang benar2 brengsek & merusak nama baik Kepolisian Negara Republik Indonesia, negara yang Insya Allah masih saya cintai (walopun waktu kuliah nilai mata kuliah Kewiraan & Pancasila saya cuma C, & oleh dosen saya diduga pro-PKI, saking antipatinya saya pada pelajaran berbau kenegaraan tersebut).
Jadi, beberapa waktu yang lalu saya harus menemani seorang teman ke kantor polisi, terkait dengan sebuah kasus yang notabene sudah ada penyelesaian damai dari kedua belah pihak, dan sudah terbit surat pencabutan laporan. Namun sialnya, karena waktu pencabutan tersebut sang bapak polisi belum terima duit, maka sang teman tetap didatangi berkali2, judulnya: NAGIH DUIT PENCABUTAN PERKARA SEBANYAK Rp 1 JUTA (itu setelah nego, tadinya minta 2jt). Nagihnya persis kayak tukang pukul, pake gebrak2 dan suara kenceng bak kakak kelas lagi ngospek. Sang teman panik dan menelepon saya meminta bantuan. Alhasil karena saya tidak ada di tempat, sang teman tetap dibawa ke kantor polisi & diancam ditahan selama 1 malam apabila tidak bisa memberikan uang tersebut (ya, saya lihat surat penahanannya).
Berbekal pengetahuan, sinisme, tampang jutek dan duit tentunya, saya mendatangi kantor poilisi yang dimaksud. Ternyata, Bapak-Bapak preman ini tidak ada di tempat, karena sedang melakukan tugas lain (pungli lainnya kali…). Setalh menunggu hampir selama 3 jam, akhirnya mereka datang.
Kebetulan kami menunggu di kantor Kanit nya, sehingga Bapak Kanit berinisial M.A ini langsung bertanya siapakah gerangan saya ini & maksud kedatangan saya. Bertanya seperti itu dengan kondisi saya yang sudah di pinggir ambang kesabaran, sepertinya adalah langkah yang salah untuk bapak Kanit. ALih2 menjawab dengan ramah, saya balik bertanya dengan sangar: MUSTINYA SAYA YANG NANYA, KENAPA TEMEN SAYA DIPANGGIL KESINI?!?
Sepertinya sang Kanit rada kaget dengan respon saya yang sangat tidak sesuai dengan wajah saya yang imut & loveable ini. Setelah gagap beberapa detik, dia menjelaskan duduk perkara bla..bla..bla..dan akhirnya dia mengajukan pertanyaan: NAH, SEKARANG MANA DANANYA MBAK?
*$@#@%#$@^%#$@^%#^$^%#!!!! = TAI KUCING NEMPEL DI KUMIS LO!!!*
Tapi saya masih sabar. Ada rasa geli dalam hati saya, wonder apakah Bapak Kanit yang terhormat ini pernah mengenyam pendidikan minimal SD?
Sebelum berlarut2 saya tanya pada beliau: SEKARANG KALO TEMAN SAYA INI BAYAR BAPAK, APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA? APAKAH SAYA DAPAT JAMINAN HITAM DI ATAS PUTIH KALO TEMAN SAYA INI TIDAK AKAN DIGANGGU OLEH ANGGOTA BAPAK LAGI?
Si Kanit hanya tersenyum. Entah senyum untuk maksud apa, alih-alih kelihatan ganteng, yang jelas bagi saya tampangnya malah terlihat sangat stupid. Mungkin bapak Kanit kehabisan kata-kata, karena akhirnya dia menyerahkan penyelesaian kasus ini pada anak buahnya yang menggiring teman saya tersebut ke kantor polisi. Langkah yang lebih fatal lagi.
Si anak buah, Brigadir A.S (NRP 730.804.445), yang paling keras suaranya & paling jutek tampangnya, langsung bertanya pada teman saya, bagaimana penyelesaiannya.Wah pak, u mess with the wrong person. Walopun si adeks lembut seperti bulu domba, kalo diadepin ama preman bisa fatal, benar2 fatal. Karena si adeks udah pasti bakal membalas dengan pelecehan harga diri. Tuntutan saya tetap sama, yaitu meminta jaminan hitam diatas putih bahwa perkara ini tidak akan dilanjut & meminta KUITANSI.
Keder dengan kecerewetan saya plus volumenya yang 8 desibel itu, (yah, lo bayangin Peggy Melati Sukma pas bilang pusiiinggg…pusiing…. itu deh, nah kira2 mirip lah, tapi dengan serentetan kata2 yang sulit dicerna oleh polisi dengan kadar Low IQ tsb), dia akhirnya manggil temennya satu lagi, Bripda Sdrynt (NRP 580.400.50), dan dia pun ngacir.
Huaa…kepala dah mo pecah aja nih dioper sana sini. Akhirnya si Bripda pun jadi sasaran kecerewetan & kegalakan saya yang udah meningkat 3x lipat. Dan tuntutan saya pun masih tetap sama. Akhirnya keluarlah kata2 yang sudah saya tunggu2 tersebut :
Bripda Sdrynt : Kami disini tidak memberikan kuitansi bu…
Saya : Lho, kok ga punya kuitansi?! Bapak kan terima duitnya?!?!
Bripda Sdrynt : ya..mustinya yang ngasih kuitansi itu dari pihak pelapornya bu…
Saya : Emang duitnya mau bapak kasiin ke si pelapor?!
Bripda : Ya enggak bu..itu kan uang jaminan buat di kantor sini…
Saya : Ya berarti kantor sini dong yang keluarin kuitansinya dan Bapak yang tanda tangan!! (keukeuh ngeyel padahal gua juga udah tau bahwa keparat2 ini ga bakalan mau ngeluaran bukti2 pemerasan whatsoever seperti itu)
Setelah saya berhasil membuktikan sendiri bahwa mereka memang melakukan pemerasan terhadap teman saya, (apa namanya kalo bukan pemerasan? kalo emang prosedur standar harusnya mereka bisa dong kasih kuitansi? ato apaaa gitu?), akhirnya uang pun diberikan.
Ketika saya meminta copy surat pencabutan perkara, mereka tidak mau memberikan dengan alasan, surat tersebut hanya ditujukan kepada Kapolsek & para pihak tidak satupun yang boleh memiliki copy-nya. Kami hanya diberi salinan bertandatangan asli dari Surat Perjanjian Damai yang dibuat oleh kedua belah pihak. Walaupn dalam surat perjanjian tersebut ada pasal yang berbunyi bahwa perkara tersebut selesai, tidak ada satu jaminan pun yang menjanjikan bahwa oknum-oknum polisi tersebut tidak akan mengganggu teman saya lagi.
Pada saat uang diberikan, saya pun mengucapkan kata2 yang sudah lama saya idam2kan untuk dikatakan pada polisi2 pungli di Indonesia ini:
Nih pak duitnya, silakan dihitung. Selamat menikmati, semoga Bapak-Bapak tidak sakit perut karenanya.
Dan yang menambah kepuasan saya lagi, salah seorang dari mereka berkata : Ya mbak, sama2 tau lah, ini kan off the record ya…
Tambah lagi bukti buat saya bahwa orang-orang ini betul-betul brengsek.
I wish i had my recorder with me back then, bakalan saya rekam suara si polisi tersebut dan saya siarkan ke seluruh dunia dengan headline : "INI DIA KOMENTAR ANGGOTA KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA KETIKA MENERIMA UANG HARAM"
Saya yakin bukan cuma saya/teman saya yang mengalami hal serupa, mungkin bukan dengan aparat kepolisian, mungkin dengan pihak kejaksaan, pajak, ataupun dengan pihak lainnya. Cerita semacam ini sudah banyak terdengar. Cerita saya tadi cuma menambah deretan dari berjuta milyar kasus serupa di Indonesia.
The question is, what can we do about that? Are we going to sit still and watch them do that over and over again? Itukah yang namanya To Protect & To Serve? Oh Please…..
Jadi sekali lagi, bapak2 polisi yang baru aja dapet duit, i hope u can still sleep tight at night, tanpa dihantui mimpi buruk dikejar2 oleh ibu2 cerewet yang bawa2 palu & pisau belati sambil teriak2 dengan suara yang volumenya setingkat dengan klakson tronton sampe akhirnya lo meninggal kaget kena serangan jantung. Sweet dreams Mr. Policemen….
May 2nd, 2007 at 7:54 pm
wah… sounds like fun! I wish I was there euy!